The Golo Mori, 3 Agustus 2026 – PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) memulai tahap pelatihan Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Glorious Golo Mori: Integration of Hospitality Talent and Local MSMEs into the Tourism Value Chain, sebagai upaya menyiapkan masyarakat Desa Golo Mori agar mampu menjadi bagian dari rantai nilai industri pariwisata yang terus berkembang di kawasan tersebut.Sebanyak 25 peserta, yang terdiri atas 15 talenta dalam Hospitality Talent Journey dan 10 pelaku UMKM dalam Golo Mori Local Business Journey, mengikuti pelatihan yang berlangsung pada 1–3 Agustus 2026 di Balai Desa Golo Mori. Program ini dirancang untuk meningkatkan kompetensi masyarakat lokal, supaya tidak sekadar menjadi penonton, tetapi juga pelaku utama yang memperoleh manfaat ekonomi dari pengembangan destinasi wisata.Seiring berkembangnya aktivitas pariwisata di kawasan The Golo Mori, peningkatan kualitas sumber daya manusia dan daya saing UMKM menjadi faktor penting dalam membangun ekosistem destinasi yang inklusif dan berkelanjutan. Melalui Program Glorious Golo Mori, ITDC menghadirkan pelatihan yang menghubungkan peningkatan kapasitas masyarakat dengan kebutuhan industri pariwisata, sehingga peluang ekonomi yang tercipta dapat dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat sekitar.Peserta Hospitality Talent Journey mendapatkan pembekalan mengenai basic hospitality, service mindset, basic English, guiding and storytelling, hingga simulasi pelayanan wisata untuk membangun kompetensi dasar di bidang layanan pariwisata. Sementara itu, peserta Golo Mori Local Business Journey memperoleh pelatihan mengenai branding, pengembangan kemasan produk, sertifikasi produk, serta pemasaran digital agar bisa meningkatkan kualitas produk dan memperluas akses pasar UMKM lokal.Program yang dilaksanakan bersama Yayasan Insan Bumi Mandiri (IBM) adalah kelanjutan dari kegiatan sosialisasi dan pre-test yang telah dilaksanakan pada Juni 2026.Pelatihan menjadi salah satu tahapan penting dalam rangkaian program pemberdayaan masyarakat yang dirancang untuk menghasilkan sumber daya manusia dan pelaku usaha lokal yang semakin siap mendukung pertumbuhan sektor pariwisata di Golo Mori.General Manager The Golo Mori, Wahyuaji Munarwiyanto, menyebut, keberhasilan sebuah destinasi wisata tidak hanya diukur dari pembangunan kawasan, tetapi juga dari sejauh mana masyarakat di sekitarnya mampu mengambil peran dan memperoleh manfaat dari perkembangan destinasi tersebut."Keberhasilan pengembangan destinasi akan semakin bermakna apabila masyarakat di sekitarnya memperoleh kesempatan untuk tumbuh dan berkembang bersama. Melalui Program TJSL Glorious Golo Mori, ITDC berupaya membekali masyarakat dengan kompetensi yang relevan sehingga mampu berpartisipasi aktif dalam rantai nilai pariwisata, menciptakan peluang ekonomi baru, serta mendukung terwujudnya destinasi yang inklusif dan berkelanjutan," ujar Wahyuaji.Kepala Desa Golo Mori, Samaila, mengapresiasi kolaborasi yang terjalin antara ITDC dan Yayasan Insan Bumi Mandiri dalam menghadirkan program pemberdayaan masyarakat yang memberikan manfaat langsung bagi warga desa."Kami mengapresiasi komitmen ITDC melalui Program Glorious Golo Mori yang memberikan ruang bagi pemuda dan pelaku UMKM untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan daya saing di sektor pariwisata. Kami berharap seluruh peserta mengikuti setiap tahapan program dengan sungguh-sungguh sehingga ilmu yang diperoleh dapat diterapkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus mendukung kemajuan Desa Golo Mori sebagai destinasi wisata yang berkembang," tutur Samaila.Setelah menyelesaikan tahap pelatihan, seluruh peserta akan mengikuti rangkaian pendampingan, praktik lapangan, hingga showcase sebagai implementasi hasil pembelajaran.Melalui proses tersebut, peserta diharapkan mampu menerapkan kompetensi yang diperoleh dalam aktivitas usaha maupun pelayanan wisata, sehingga kehadiran pariwisata di Golo Mori semakin memberikan manfaat nyata bagi masyarakat lokal sekaligus memperkuat pembangunan destinasi yang inklusif dan berkelanjutan.
The Golo Mori, 1 Agustus 2026 - Suasana Golo Mori Convention Center (GMCC) pada Sabtu (1/8) sore, dipenuhi semangat pelestarian budaya lokal melalui pertunjukan Gemilang Seni, sebuah pagelaran seni budaya yang digagas mahasiswa KKN-PPM Universitas Gadjah Mada (UGM) Periode II Tahun 2026.PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) melalui The Golo Mori, mendukung penyelenggaraan Gemilang Seni sebagai salah satu upaya mendorong pelestarian seni budaya sekaligus memperkuat kolaborasi ITDC dengan masyarakat. Dukungan tersebut diwujudkan melalui penyediaan Teno Amphitheater sebagai lokasi kegiatan beserta berbagai fasilitas pendukung untuk menunjang kelancaran penyelenggaraan acara.Diselenggarakan dengan latar panorama matahari terbenam khas Golo Mori, Gemilang Seni menghadirkan beragam pertunjukan budaya yang memukau, mulai dari Tari Kentau, Tari Sirih Pinang, Tari Songke Manggarai, Tari Rangkuk Alu, pembacaan puisi, pidato, hingga pertunjukan teater. Seluruh penampilan dibawakan oleh 27 warga kolaborasi Desa Golo Mori dan Desa Warloka Pesisir dari berbagai kelompok usia, mencerminkan semangat kebersamaan lintas generasi dalam menjaga warisan budaya daerah.Sebanyak 150 penonton dari masyarakat, wisatawan, perwakilan Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, dan Kebudayaan, pemerintah desa, serta para pemangku kepentingan tampak antusias menyaksikan setiap penampilan yang disuguhkan sepanjang acara.General Manager The Golo Mori, Wahyuaji Munarwiyanto, mengatakan, The Golo Mori tidak sekadar dikembangkan sebagai destinasi pariwisata, tetapi juga sebagai ruang kolaborasi yang mendorong pelestarian budaya dan pemberdayaan masyarakat."The Golo Mori kami kembangkan bukan hanya sebagai destinasi pariwisata, tetapi juga sebagai ruang kolaborasi yang bisa memberi manfaat bagi masyarakat. Melalui Gemilang Seni, kami ingin memberikan panggung bagi budaya lokal agar tetap hidup, dikenal lebih luas, dan menjadi bagian dari pengalaman yang dirasakan setiap pengunjung. Kami percaya, destinasi yang berkelanjutan adalah destinasi yang tumbuh bersama masyarakat dan budayanya,” ujar Aji.Ketua Program Gemilang Seni, Kania Azaliaputri Tofani, mengapresiasi kolaborasi bersama ITDC melalui The Golo Mori dalam penyelenggaraan Gemilang Seni. "Kami sangat bersyukur atas dukungan dari ITDC melalui The Golo Mori sehingga Gemilang Seni dapat terlaksana dengan baik. Semoga kegiatan ini bisa menjadi wadah bagi masyarakat untuk terus melestarikan budaya lokal sekaligus mengenalkannya kepada masyarakat luas dan para pengunjung," tutur Kania.Gemilang Seni merupakan salah satu program KKN-PPM UGM Periode II Tahun 2026 di Kecamatan Komodo yang mengangkat seni dan budaya sebagai media pemberdayaan masyarakat. Melalui kolaborasi dengan masyarakat lokal, kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan apresiasi terhadap warisan budaya sekaligus mendorong keterlibatan generasi muda untuk terus menjaga dan melestarikannya.Sebagai fasilitas MICE utama di kawasan The Golo Mori, Golo Mori Convention Center (GMCC) terus mendukung penyelenggaraan berbagai kegiatan yang memberikan nilai tambah bagi kawasan dan masyarakat, mulai dari konferensi, forum bisnis, kegiatan komunitas, hingga pertunjukan seni dan budaya.Melalui kolaborasi bersama masyarakat, perguruan tinggi, dan berbagai pemangku kepentingan, ITDC melalui The Golo Mori berkomitmen untuk terus menghadirkan ruang-ruang kolaborasi yang mendukung pelestarian budaya, memperkuat peran masyarakat lokal dalam pengembangan destinasi, serta memperkaya pengalaman pengunjung di kawasan The Golo Mori.
The Nusa Dua, 30 Juli 2026 – Sebagai wujud komitmen dalam mendukung pembangunan berkelanjutan, InJourney Tourism Development Corporation (ITDC), melalui Program Community Development The Nusa Dua menjalin kolaborasi strategis dengan Yayasan Owl Tower Bali untuk mengembangkan pertanian organik berbasis konservasi lingkungan dan pelestarian keanekaragaman hayati (biodiversity) di Desa Kedisan, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar.Kolaborasi yang diwujudkan melalui pemanfaatan burung hantu Tyto Alba sebagai predator alami pengendali hama tikus ini, bertujuan untuk menciptakan sistem pertanian yang lebih ramah lingkungan, meningkatkan produktivitas pertanian, sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat.Sebagai bagian dari program tersebut, ITDC menyalurkan bantuan berupa 10 unit Rumah Burung Hantu (RUBUHA), 1 unit kandang adaptasi berukuran 3 x 2 meter, serta paket pakan awal selama 14 hari yang terdiri atas jangkrik dan 84 ekor tikus. Sementara itu, Yayasan Owl Tower Bali yang dipimpin oleh dr. I Wayan Wirawan, S.Ked., M.M. menyerahkan sepasang burung hantu jenis Tyto Alba yang akan dibudidayakan sebagai predator alami untuk mengendalikan populasi hama tikus di area persawahan. Program ini menjadi salah satu bentuk penerapan solusi berbasis alam (nature-based solution) dalam mendukung praktik pertanian organik yang lebih efektif, efisien, dan berkelanjutan.General Manager The Nusa Dua, I Made Agus Dwiatmika, mengatakan, kolaborasi ini merupakan implementasi nyata komitmen ITDC dalam menciptakan creating shared value, di mana keberhasilan perusahaan tidak hanya diukur dari pengembangan kawasan pariwisata, tetapi juga dari kontribusi nyata yang mampu diberikan bagi masyarakat dan lingkungan sekitar."Kami percaya bahwa keberlanjutan tidak hanya diwujudkan melalui pengelolaan destinasi pariwisata, tetapi juga melalui kontribusi nyata terhadap sektor pertanian, yang menjadi bagian penting dari ekosistem pembangunan daerah. Melalui kolaborasi ini, kami berharap dapat membantu petani mengendalikan hama secara alami, mendukung pelestarian biodiversity, menjaga keseimbangan ekosistem, sekaligus menciptakan nilai bersama yang memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat, lingkungan, dan pembangunan daerah," ujar Agus.Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa program ini juga mencerminkan komitmen ITDC untuk terus memperluas dampak positif perusahaan melalui berbagai program Community Development yang selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Khususnya dalam mendukung ketahanan pangan, konservasi ekosistem daratan, dan penguatan kemitraan untuk pembangunan berkelanjutan.Pendiri Yayasan Owl Tower Bali, dr. I Wayan Wirawan, S.Ked., M.M., menjelaskan, burung hantu Tyto Alba merupakan salah satu predator alami paling efektif dalam mengendalikan populasi tikus sawah. Seekor burung hantu dewasa mampu memangsa beberapa ekor tikus setiap malam sehingga menjadi solusi pengendalian hama yang efektif tanpa merusak keseimbangan ekosistem maupun mencemari lingkungan akibat penggunaan bahan kimia."Pemanfaatan burung hantu sebagai pengendali hayati telah terbukti mampu membantu petani mengurangi ketergantungan terhadap racun tikus. Selain lebih ramah lingkungan, metode ini juga mendukung terciptanya ekosistem pertanian yang lebih sehat, menjaga keseimbangan rantai makanan, serta mendukung pelestarian keanekaragaman hayati," jelas dr. I Wayan Wirawan.Apresiasi turut disampaikan Ketua Kelompok Tani Desa Kedisan, I Putu Yoga Wibawa, yang mengucapkan terima kasih atas dukungan ITDC dan Yayasan Owl Tower Bali kepada para petani di Desa Kedisan. Menurutnya, bantuan Rumah Burung Hantu (RUBUHA) beserta burung hantu Tyto alba menjadi solusi yang sangat dibutuhkan karena sejalan dengan upaya pengembangan pertanian organik yang lebih sehat, produktif, dan ramah lingkungan tanpa bergantung pada penggunaan bahan kimia untuk pengendalian hama."Program ini diyakini akan memberikan manfaat nyata dalam mengurangi serangan hama tikus, meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil panen, sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem persawahan. Fasilitas yang telah diberikan akan dirawat dan dimanfaatkan secara optimal agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh seluruh anggota kelompok tani. Besar harapan, inisiatif ini juga dapat menjadi inspirasi bagi desa-desa lain untuk menerapkan praktik pertanian yang lebih berwawasan lingkungan dan mendukung pelestarian alam," ungkap I Putu Yoga Wibawa.Penggunaan burung hantu sebagai agen pengendali hayati telah diterapkan di berbagai daerah di Indonesia sebagai alternatif yang lebih berkelanjutan dibandingkan penggunaan racun tikus. Selain efektif mengendalikan populasi hama, metode ini turut menjaga keseimbangan ekosistem, mempertahankan kesuburan tanah, melindungi organisme non-target di lingkungan persawahan, serta mendukung produksi pangan yang lebih sehat dan aman untuk dikonsumsi.Inisiatif ini merupakan wujud komitmen ITDC dalam mengimplementasikan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) melalui pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal. Sebagai pengembang dan pengelola destinasi pariwisata, ITDC meyakini bahwa keberlanjutan pariwisata berjalan seiring dengan keberlanjutan sektor pertanian dan kelestarian lingkungan. Oleh karena itu, melalui Program Community Development, ITDC terus membangun kolaborasi lintas sektor, termasuk bersama Yayasan Owl Tower Bali, untuk mengembangkan pertanian organik berbasis konservasi lingkungan, melestarikan keanekaragaman hayati (biodiversity), meningkatkan produktivitas pertanian yang ramah lingkungan, serta menghadirkan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat di bidang lingkungan, ekonomi, sosial, dan budaya.“Sejalan dengan visi perusahaan dalam mengembangkan destinasi pariwisata berkualitas dan berkelanjutan, ITDC akan terus memperluas kemitraan yang memberikan dampak positif bagi masyarakat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan sebagai fondasi masa depan pariwisata Indonesia,” tutup Agus.
The Mandalika, 24 Juli 2026 – Menyambut International Mangrove Conservation Day pada 26 Juli mendatang, PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney bersama anak perusahaannya InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) memperkuat pengembangan Mangrove Sanctuary di kawasan The Mandalika, Nusa Tenggara Barat (NTB), sebagai kawasan ecotourism berbasis konservasi. Upaya tersebut ditandai dengan penanaman 4.500 bibit mangrove melalui program InJourney Green. Kegiatan penanaman yang dilaksanakan pada Jumat (24/7) merupakan tahap ketiga dari program rehabilitasi mangrove yang telah dimulai sejak 14 September 2025 di Blok 22 dan tahap 2 pada peringatan hari bumi 22 April 2026 di Blok 22 dan 23 sehingga pada tahap 3 ini total terakumulasi sudah 20.000 bibit mangrove tertanam. Penanaman dilakukan di kawasan Lot MG, Blok 11 dan Blok 23 The Mandalika menggunakan jenis mangrove Rhizophora Stylosa sebagai langkah untuk pelestarian lingkungan dan aset wisata dengan melindungi kawasan pesisir dari abrasi, gelombang besar, angin kencang dan intrusi air laut, menyerap dan menyimpan karbon dalam jumlah besar melalui batang, akar, dan sedimen sehingga mendukung mitigasi perubahan iklim. Penanaman mangrove ini juga sebagai upaya untuk memberikan habitan bagi berbagai biota, seperti ikan, kepiting, burung, dan organisme pesisir endemik khas Mandalika lainnya. “Melalui program InJourney Green, kami ingin memastikan bahwa pengembangan pariwisata tidak hanya menghadirkan pertumbuhan ekonomi, namun juga menjaga keseimbangan ekosistem dan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat. Salah satu fokus kami adalah pengembangan Mangrove Sanctuary di The Mandalika sebagai bagian dari komitmen terhadap pariwisata berkelanjutan,” jelas Direktur SDM dan Digital, Herdy Harman. Herdy juga menegaskan bahwa keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari jumlah Mangrove yang ditanam. Namun, InJourney juga melakukan social mapping dan menyusun roadmap pemberdayaan Masyarakat agar Mangrove Sanctuary dapat menjadi sumber manfaat ekonomi baru melalui pengembangan ekowisata dan aktivitas berbasis konservasi.Di kesempatan yang sama, General Manager The Mandalika, Pari Wijaya, menyebut, pelestarian lingkungan merupakan fondasi dalam pengembangan The Mandalika sebagai destinasi pariwisata kelas dunia yang mengedepankan prinsip keberlanjutan."Di The Mandalika, kami meyakini bahwa pengembangan destinasi harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan. Melalui InJourney Green, kami tidak hanya melakukan rehabilitasi ekosistem mangrove, tetapi juga membangun fondasi bagi pengembangan kawasan ecotourism yang memberikan manfaat jangka panjang bagi lingkungan, masyarakat, dan keberlanjutan destinasi," ujar Pari.Untuk memastikan pengembangan dilakukan secara terarah dan berkelanjutan, InJourney dan ITDC menyusun feasibility study yang mencakup roadmap rehabilitasi mangrove, kajian sosial (social mapping) masyarakat sekitar, serta identifikasi potensi pengembangan ekonomi berbasis ekosistem mangrove. Kajian tersebut disusun bersama Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan Institut Pertanian Bogor (PKSPL IPB) sebagai landasan ilmiah dalam merancang pengelolaan kawasan Mangrove Sanctuary.Pari menambahkan, pengembangan kawasan ini diharapkan menghadirkan manfaat yang lebih luas, tidak hanya bagi lingkungan tetapi juga bagi masyarakat sekitar. "Mangrove memiliki peran penting sebagai pelindung alami kawasan pesisir, penyerap karbon, serta habitat berbagai biota, sekaligus memiliki potensi ekonomi bagi masyarakat. Karena itu, kami ingin memastikan setiap langkah pengembangan kawasan memberikan kontribusi nyata terhadap pelestarian lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan. Ke depan, Mangrove Sanctuary diharapkan menjadi ruang konservasi, edukasi, dan ecotourism yang memperkuat implementasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) di The Mandalika," tambah Pari.Pelaksanaan program ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan, di antaranya PKSPL IPB, pemerintah daerah, instansi lingkungan hidup, aparat setempat, akademisi, tenant kawasan, dan masyarakat sekitar. Kolaborasi lintas sektor tersebut menjadi bagian penting dalam membangun pengelolaan ekosistem mangrove yang berkelanjutan sekaligus menciptakan nilai tambah bagi kawasan dan masyarakat.Melalui InJourney Green, InJourney Group terus memperkuat implementasi pembangunan berkelanjutan di seluruh destinasi yang dikelolanya sebagai wujud komitmen perusahaan dalam menjaga keseimbangan antara pengembangan pariwisata, pelestarian lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat.
The Golo Mori, 23 Juli 2026 – Sebanyak 100 siswa-siswi dari dua sekolah dasar di Desa Golo Mori, desa penyangga kawasan The Golo Mori, mengikuti program Generasi Sehat Golo Mori yang diselenggarakan PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional 2026. Melalui program bertema "Menjaga Kesehatan, Menumbuhkan Harapan", ITDC memperkuat komitmen membangun destinasi pariwisata berkelanjutan melalui peningkatan kualitas hidup masyarakat, khususnya anak-anak sebagai generasi penerus.Bagi ITDC, pembangunan destinasi tidak hanya diwujudkan melalui pengembangan infrastruktur dan penguatan daya saing pariwisata, tetapi juga melalui investasi sosial yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekitar kawasan. Momentum Hari Anak Nasional menjadi pengingat bahwa anak-anak berhak tumbuh dalam lingkungan yang sehat, memperoleh edukasi yang berkualitas, serta memiliki kesempatan berkembang secara optimal sebagai bagian dari masa depan destinasi.Kegiatan yang berlangsung di Golo Mori Convention Center (GMCC), menghadirkan berbagai aktivitas edukatif dan promotif, mulai dari senam bersama, edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), skrining kesehatan dasar, pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut, hingga pembagian Healthy Kids Kit dan sertifikat partisipasi sebagai bentuk apresiasi atas keikutsertaan mereka dalam kegiatan tersebut. Paket tersebut berisi perlengkapan kebersihan diri, camilan bergizi, tumbler, media mewarnai, serta Kartu Tantangan 30 Hari PHBS yang dirancang untuk mendorong anak-anak membangun kebiasaan hidup sehat bersama keluarga di rumah.Program ini terlaksana melalui kolaborasi dengan Puskesmas Golo Mori, yang telah meraih Akreditasi Paripurna dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, serta didukung oleh RSU Siloam Labuan Bajo melalui kehadiran dokter yang memberikan edukasi kesehatan secara interaktif. Sinergi ini diharapkan tak hanya menghadirkan layanan kesehatan yang berkualitas, tetapi juga memperkuat kesadaran anak-anak dan keluarga tentang pentingnya menerapkan PHBS dalam kehidupan sehari-hari.General Manager The Golo Mori, Wahyuaji Munarwiyanto, menyebut, keberhasilan pembangunan destinasi tidak hanya diukur dari berkembangnya kawasan, tetapi juga dari meningkatnya kualitas hidup masyarakat di sekitarnya. "Melalui Generasi Sehat Golo Mori, kami ingin menghadirkan manfaat nyata bagi anak-anak melalui edukasi kesehatan, pemeriksaan kesehatan, serta pembiasaan perilaku hidup bersih dan sehat sejak dini. Kami berharap program ini dapat menjadi langkah awal dalam membentuk generasi yang lebih sehat, lebih percaya diri, dan siap menyongsong masa depan," ujar Aji.Ia menambahkan, program yang merupakan bagian dari Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) ITDC tersebut juga mendukung upaya pemerintah dalam meningkatkan kesehatan anak melalui pendekatan promotif dan preventif sejak usia dini, sejalan dengan pelaksanaan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG).Senada dengan Aji, Vice President Destination Management ITDC, Nurhadi Nugraha, menegaskan, kolaborasi lintas sektor menjadi fondasi penting dalam menciptakan dampak sosial yang berkelanjutan."Hari Anak Nasional menjadi momentum untuk mengingatkan kita bahwa setiap anak berhak tumbuh dalam lingkungan yang sehat dan memperoleh akses terhadap edukasi kesehatan yang berkualitas. Sinergi antara ITDC, Puskesmas Golo Mori, RSU Siloam Labuan Bajo, sekolah, dan orang tua merupakan fondasi penting dalam membangun budaya hidup bersih dan sehat sejak dini. Kami berharap Generasi Sehat Golo Mori tidak berhenti sebagai kegiatan peringatan, tetapi berkembang menjadi gerakan bersama yang memberikan manfaat jangka panjang bagi anak-anak dan masyarakat di sekitar kawasan," tutur Nurhadi.Kepala UPTD Puskesmas Golo Mori, Rosmaladewi, mengapresiasi kolaborasi yang terjalin bersama ITDC dalam menghadirkan layanan kesehatan bagi anak-anak di Desa Golo Mori. Menurutnya, edukasi dan deteksi dini merupakan langkah penting dalam membentuk generasi yang sehat sejak usia sekolah."Program seperti Generasi Sehat Golo Mori menjadi bentuk kolaborasi yang sangat positif dalam meningkatkan kesadaran anak-anak dan orang tua mengenai pentingnya menjaga kesehatan sejak dini. Melalui pemeriksaan kesehatan, edukasi PHBS dan gizi seimbang, serta dukungan berbagai pihak, kami berharap anak-anak dapat menerapkan kebiasaan hidup bersih dan sehat secara konsisten sehingga tumbuh menjadi generasi yang sehat, aktif, dan berkualitas," pungkas Rosmaladewi.Melalui Generasi Sehat Golo Mori, ITDC berharap peringatan Hari Anak Nasional tidak berhenti sebagai agenda seremonial, tetapi menjadi awal dari kolaborasi berkelanjutan untuk menghadirkan generasi yang lebih sehat, tangguh, dan siap menjadi bagian dari masa depan kawasan. Program ini sekaligus mempertegas komitmen ITDC dalam menciptakan shared value, di mana pengembangan destinasi berjalan selaras dengan peningkatan kualitas hidup masyarakat melalui kolaborasi bersama pemerintah, fasilitas kesehatan, institusi pendidikan, dan masyarakat sebagai bagian dari pembangunan pariwisata yang inklusif, berkelanjutan, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekitar kawasan The Golo Mori.
The Nusa Dua, 23 Desember 2025 – InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) kembali menorehkan prestasi dengan meraih Gold Award 2025 pada ajang Penganugerahan CSR BUMN Award ke-VIII dan CSR BUMN Initiative ke-III Tahun 2025 yang diselenggarakan di Auditorium Gedung Keuangan Negara, Renon, Denpasar. ITDC masuk dalam 10 besar penerima penghargaan, melanjutkan tren positif perusahaan yang konsisten meraih penghargaan Gold Award sejak tahun 2018. Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk apresiasi atas berbagai inisiatif dan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) ITDC yang fokus pada pembangunan masyarakat berkelanjutan, sejalan dengan komitmen perusahaan yang menerapkan prinsip Environment, Social, and Governance (ESG). Program program tersebut mencakup penguatan kapasitas masyarakat, pelestarian lingkungan, pemberdayaan UMKM, hingga dukungan terhadap sektor pendidikan dan kebudayaan di wilayah destinasi pariwisata yang dikelola ITDC. General Manager The Nusa Dua, I Made Agus Dwiatmika menyampaikan, penghargaan ini menjadi pengakuan atas konsistensi ITDC dalam menghadirkan program tanggung jawab sosial yang berdampak nyata dan berkelanjutan. “Di The Nusa Dua, kami meyakini bahwa pengembangan kawasan pariwisata kelas dunia harus berjalan seiring dengan pemberdayaan masyarakat, pelestarian budaya, serta kepedulian terhadap lingkungan. Melalui pendekatan ESG, kami terus mendorong kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk dunia pendidikan dan seni budaya lokal, agar kehadiran ITDC memberikan nilai tambah yang inklusif dan berjangka panjang bagi Bali,” terang Agus.Kesuksesan ITDC meraih kembali penghargaan Gold Award, menjadi bukti akan komitmen perusahaan, untuk terus menghadirkan nilai tambah yang berkelanjutan. Bukan hanya melalui pengembangan kawasan pariwisata berkelas dunia, tetapi juga melalui kontribusi nyata bagi masyarakat, budaya, dan lingkungan sekitar. Penganugerahan penghargaan, turut dihadiri berbagai stakeholders terkait, antara lain perwakilan PHDI Bali, Kementerian Agama, pimpinan dan perwakilan BUMN di wilayah Bali, pimpinan dan perwakilan perusahaan swasta, unsur institusi pendidikan, serta para undangan lainnya. Agus menambahkan, capaian ITDC ini, sekaligus sebagai momentum mengukuhkan komitmen, supaya pembangunan berkelanjutan yang dilakukan, terus memberikan dampak positif yang nyata bagi masyarakat dan negara. “Melalui capaian ini, ITDC menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat peran perusahaan sebagai agen pembangunan pariwisata berkelanjutan, sekaligus mitra strategis dalam mendukung kemajuan sosial, budaya, dan lingkungan di Indonesia,” tutup Agus.
The Nusa Dua, 20 Desember 2025 – InJourney Tourism Development Corporation (ITDC), melalui SBU The Nusa Dua menyalurkan bantuan tanggap darurat kepada masyarakat terdampak bencana banjir di Kelurahan Padangsambian, Kota Denpasar, pada Senin (16/12). Bantuan ini disalurkan sebagai respons cepat ITDC terhadap kondisi darurat pasca banjir, melalui koordinasi dengan pemerintah setempat, guna mendukung pemulihan sektor pendidikan serta pemenuhan kebutuhan dasar warga, sejalan dengan komitmen perusahaan dalam menjalankan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) serta implementasi program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) secara berkelanjutan. Penyaluran bantuan tersebut sebagai tindak lanjut dari pengecekan langsung ke lokasi terdampak serta koordinasi dengan pihak kelurahan, kepala lingkungan, dan instansi terkait. Langkah ini dilakukan untuk memastikan kebutuhan masyarakat teridentifikasi secara cepat dan bantuan dapat disalurkan secara tepat sasaran sesuai kondisi lapangan. General Manager The Nusa Dua, I Made Agus Dwiatmika, menyampaikan bahwa kecepatan dan ketepatan respons menjadi prioritas ITDC dalam menghadapi situasi darurat. “Kami tidak hanya berfokus pada pengembangan destinasi pariwisata berkelanjutan, tetapi juga hadir secara cepat dan responsif bagi masyarakat sekitar. Prinsip ESG dan TJSL menjadi landasan kami dalam memastikan kontribusi sosial yang nyata dan berdampak,” ujarnya. Bantuan ITDC difokuskan pada dua aspek utama, yaitu pemulihan sektor pendidikan dan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. Dalam mendukung keberlangsungan proses belajar mengajar pascabanjir, ITDC menyalurkan bantuan pendidikan kepada SD Negeri No. 11 Padangsambian berupa 100 lusin buku tulis dan 2 (dua) unit proyektor indoor. Bantuan tersebut diterima langsung oleh Kepala Sekolah SD Negeri No. 11 Padangsambian, Ibu Ni Luh Wiari Astiti, S.Pd., dan disaksikan oleh Kepala Lingkungan Buana Desa, Bapak Ketut Diarta. Selain itu, sebagai bentuk kepedulian terhadap kebutuhan harian warga selama masa pemulihan, ITDC menyalurkan 100 paket sembako dan 100 lembar tikar kepada masyarakat terdampak di Lingkungan Buana Desa, Kelurahan Padangsambian. Bantuan diterima oleh Kepala Lingkungan Buana Desa, Bapak Ketut Diarta, bersama perwakilan warga terdampak, serta disaksikan oleh Kepala Seksi Pembangunan dan Trantib Kelurahan Padangsambian, Bapak Satria Perdana. Kegiatan penyerahan bantuan juga didampingi oleh Vice President Operations & Services The Nusa Dua, Putu Trisna Wijaya. Kegiatan ini mendapat respons positif dari pemerintah setempat serta masyarakat penerima manfaat. Melalui aksi tanggap darurat ini, ITDC menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah dan masyarakat, serta berkontribusi aktif dalam pemulihan pascabencana sebagai bagian dari tata kelola perusahaan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.
The Golo Mori, 10 Desember 2025 – Holding Aviasi dan Pariwisata, InJourney bersama anak usahanya, InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) menyelenggarakan Hospitality Training for Frontliners selama dua hari, pada 8–9 Desember 2025 di Golo Mori Convention Center (GMCC), kawasan The Golo Mori. Kegiatan ini menjadi wujud komitmen InJourney dan ITDC Group dalam memperkuat penerapan standar layanan unggul (service excellence) yang terintegrasi di lingkungan InJourney Group yang berkelas dunia, serta mendukung perkembangan kawasan pariwisata The Golo Mori. Membuka pelatihan, General Manager The Golo Mori, Aji Munarwiyanto menyampaikan apresiasi kepada InJourney atas dukungan pelatihan berbasis standar pelayanan InJourney Group. “Pelatihan ini memastikan seluruh frontliners memiliki pemahaman dan standar pelayanan yang selaras sehingga mampu menghadirkan pengalaman terbaik bagi setiap pengunjung dan stakeholders penyelenggara kegiatan di The Golo Mori,” ujarnya. Sebanyak 38 personel lintas fungsi yang berinteraksi langsung dengan tamu, antara lain unit keamanan di bagian gerbang, operasional, banquet, housekeeping, hingga landscape, mengikuti pelatihan untuk memperkuat service mindset, keterampilan komunikasi, penerapan standar hospitality, dan pemahaman menyeluruh terhadap customer journey. Program pelatihan diselenggarakan secara interaktif. Kombinasi presentasi, simulasi, serta activity-based learning, dipandu secara apik oleh Tasya Nur Intan Dewi, Dian Anggraeni, dan Ardhita Willy Mustika dari InJourney serta Febriyani Galuh Pratiwi yang melengkapi sesi dengan beberapa gimmick seru. Materi yang diberikan mencakup penguatan service leadership, pemahaman embracing generational diversity, hingga strategi memposisikan layanan sebagai kekuatan pemasaran berkelanjutan. Senior Vice President Customer Experience InJourney, Tasya Nur Intan Dewi, menegaskan, “People is experience. Pengalaman wisatawan dimulai dari senyuman dan layanan pertama yang mereka terima. InJourney berkomitmen untuk terus mendukung peningkatan kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai wajah destinasi, hingga setiap interaksi mencerminkan keramahan, profesionalisme dan keunggulan pariwisata Indonesia.”. Selain memperluas pengetahuan dan wawasan serta meningkatkan keterampilan, para peserta juga menerima sertifikat pelatihan layanan prima dari ITDC sebagai bentuk apresiasi atas penerapan pelayanan yang baik selama ini dan partisipasi aktif selama program berlangsung. Pelaksanaan pelatihan juga mengacu pada tiga indikator keberhasilan utama, yaitu peningkatan pemahaman prinsip layanan unggul yang ditanamkan melalui penyampaian materi inti, kemampuan menerapkan Indonesian Hospitality Standard yang diuji melalui simulasi interaksi dengan tamu, dan penguatan koordinasi lintas fungsi layanan untuk memastikan customer journey berjalan optimal dari awal hingga akhir. Dengan capaian tersebut, para frontliner semakin siap berperan sebagai representasi profesional dan bersahabat dari The Golo Mori. Pelaksanaan pelatihan juga mengacu pada tiga indikator keberhasilan utama, yaitu peningkatan pemahaman prinsip layanan unggul yang disampaikan pada materi, kemampuan menerapkan Indonesian Hospitality Standard yang diuji melalui simulasi interaksi dengan tamu, dan penguatan koordinasi lintas fungsi layanan untuk memastikan customer journey berjalan optimal dari awal hingga akhir. Dengan capaian tersebut, para frontliner semakin siap berperan sebagai representasi profesional dan bersahabat dari The Golo Mori. Aji menambahkan, “Peningkatan kualitas layanan tidak hanya berfokus pada interaksi langsung dengan tamu, tetapi juga berperan sebagai fondasi penting bagi kesiapan kawasan dalam menyelenggarakan berbagai event berskala nasional maupun internasional di The Golo Mori,” ujarnya. Lebih lanjut, penguatan kompetensi SDM ini semakin meningkatkan kesiapan The Golo Mori dalam menyambut agenda strategis dan komersial melalui GMCC dan Nuka Beach Club. Dengan standar layanan yang semakin solid, The Golo Mori menargetkan peningkatan kepuasan pelanggan, loyalitas penyelenggara MICE, dan daya saing sebagai sustainable marine-based MICE destination. Selain proses pembelajaran yang intensif, pelatihan ini juga menghadirkan atmosfer inspiratif dengan pemandangan langsung ke teluk biru Golo Mori dan gugusan perbukitan sekitarnya, memberikan pengalaman upskilling sumber daya manusia pariwisata yang selaras dengan keunggulan alam destinasi.
The Mandalika 10 Desember 2025 – Untuk meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi situasi darurat sekaligus memperkuat pemahaman pelaku usaha dan pegawai mengenai tata cara menanggulangi kebakaran, InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) menyelenggarakan Simulasi Penanggulangan Kebakaran pada hari Selasa (9/12). Berlangsung di Lapangan Kantor ITDC The Mandalika, kegiatan ini diikuti oleh pegawai ITDC serta pelaku usaha di kawasan, termasuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Bazaar Mandalika, tenant hotel, dan restoran yang beroperasi di The Mandalika. Pelaksanaan simulasi ini bertujuan memastikan seluruh pihak memahami prosedur evakuasi, penggunaan alat pemadam api, serta langkah-langkah penanganan yang harus dilakukan secara cepat, tepat, dan terkoordinasi apabila terjadi kebakaran di kawasan The Mandalika. Kegiatan penanggulangan darurat ini sebelumnya telah dilaksanakan pada tahun 2023, dan mulai tahun 2025 ditargetkan digelar secara berkelanjutan setiap tahun sebagai bagian dari program peningkatan keselamatan dan tata kelola risiko yang dilakukan secara rutin di The Mandalika. PGS. General Manager The Mandalika, Agus Setiawan, mengatakan bahwa kegiatan simulasi kebakaran ini merupakan bentuk komitmen ITDC menciptakan kawasan pariwisata yang aman dan responsif terhadap risiko kedaruratan. “The Mandalika sebagai destinasi kelas dunia, tidak hanya berfokus pada pengembangan infrastruktur dan pengalaman wisata, tetapi juga pada aspek keselamatan dan kesiapan dalam menghadapi potensi risiko darurat. Simulasi ini diharapkan dapat menumbuhkan kesiapsiagaan kolektif bagi seluruh pegawai dan pelaku usaha, sehingga apabila terjadi keadaan darurat, respon dapat dilakukan dengan cepat, tepat, dan terukur,” terang Agus. Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Lombok Tengah, Saeful Bahri, S.T, mengapresiasi langkah ITDC dalam meningkatkan kapasitas penanganan keadaan darurat di kawasan. “Kegiatan ini penting sebagai upaya preventif. Semakin sering dilakukan pelatihan dan simulasi, maka semakin baik tingkat kesiapan dan koordinasi di lapangan. Kami berharap inisiatif ini dapat terus berlangsung hingga menjadi standar keselamatan operasional di lingkungan The Mandalika,” ujarnya. Melalui kegiatan ini, peserta mendapatkan pemahaman langsung mengenai tahapan penanggulangan kebakaran, mulai dari pengenalan kelas-kelas kebakaran dan jenis Alat Pemadam Api Ringan (APAR) yang sesuai untuk masing-masing kondisi, penanganan kebakaran pada kompor dan kebocoran Gas LPG, hingga praktik memadamkan api menggunakan APAR. Simulasi juga mencakup demonstrasi penanganan kebakaran dengan mobil Damkar sebagai tahapan akhir untuk memastikan peserta memahami koordinasi lapangan dalam situasi darurat. Pelaksanaan Simulasi Penanggulangan Kebakaran ini selaras dengan komitmen keberlanjutan ITDC dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Melalui kegiatan ini, ITDC berupaya mewujudkan kawasan pariwisata yang aman dan tangguh sebagaimana tercantum dalam SDG 11 (Kota dan Komunitas yang Berkelanjutan), yang menegaskan pentingnya pembangunan kawasan yang berketahanan terhadap risiko bencana. Kegiatan ini juga memperkuat tata kelola kesiapsiagaan darurat sesuai semangat SDG 16 (Perdamaian, Keadilan dan Kelembagaan yang Tangguh) yang mendorong lembaga yang responsif dan mampu mengelola risiko secara efektif. Selain itu, kegiatan ini berkontribusi pada SDG 8 (Pekerjaan Layak & Pertumbuhan Ekonomi) yang menitikberatkan pada peningkatan keselamatan dan kesehatan kerja (K3), perlindungan tenaga kerja, serta penciptaan lingkungan kerja yang aman dan layak bagi seluruh pegawai dan pelaku usaha di kawasan ITDC. Melalui simulasi fire drill ini, ITDC berharap seluruh pihak yang berada di dalam kawasan punya pemahaman yang lebih baik, dalam menghadapi potensi risiko kebakaran, termasuk memahami tindakan dan peralatan apa saja yang harus digunakan dalam situasi darurat.
The Golo Mori, 28 November 2025 – The Golo Mori menjadi tuan rumah pelaksanaan Workshop Pengenalan Isu-isu Kedisabilitasan bagi Stakeholders yang digagas oleh Yayasan Kita Juga (SANKITA) pada Kamis (27/11) di Beach Shelter, Kawasan The Golo Mori. SANKITA adalah organisasi sosial yang bergerak dalam pemberdayaan disabilitas di Kabupaten Manggarai Barat, Labuan Bajo, NTT.Kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi lintas sektor dengan menghadirkan unsur pemerintah, lembaga pendidikan, tenaga kesehatan, wirausaha, tokoh masyarakat, dan perwakilan penyandang disabilitas, untuk memperkuat pemahaman bersama mengenai pentingnya pembangunan ekosistem sosial yang inklusif, adaptif, dan menghargai keberagaman di wilayah pesisir selatan Labuan Bajo.Disampaikan oleh General Manager The Golo Mori, Aji Munarwiyanto, bahwa inklusivitas merupakan bagian penting dari arah pembangunan destinasi berkelanjutan yang tengah diperkuat di kawasan The Golo Mori. “Ketika setiap kelompok masyarakat, termasuk penyandang disabilitas, memiliki akses dan kesempatan yang setara, maka daya saing kawasan akan tumbuh secara lebih kokoh dan bermakna,” ujarnya.Dari sisi program pemberdayaan, Direktur Yayasan Kita Juga (SANKITA) memaparkan hasil asesmen lapangan yang telah dilakukan sejak Mei 2025. Temuan tersebut menunjukkan bahwa penyandang disabilitas di tiga desa dampingan yaitu Desa Golo Mori, Desa Warloka, dan Desa Pantar masih menghadapi keterbatasan dalam pemenuhan kebutuhan dasar, mulai dari akses layanan kesehatan, pendidikan, fasilitas pendukung, hingga ketersediaan alat bantu adaptif. Kondisi ini mempertegas urgensi peningkatan literasi dan kapasitas masyarakat terkait isu kedisabilitasan.Berangkat dari temuan tersebut, lokakarya dirancang untuk membangun pemahaman bersama mengenai konsep kedisabilitasan, perspektif masyarakat inklusif, hingga strategi menghadirkan ruang sosial yang lebih ramah dan partisipatif. Melalui sesi pemaparan materi, diskusi kelompok, dan penyusunan rencana aksi, peserta dari berbagai sektor mendalami tantangan yang dihadapi penyandang disabilitas serta merumuskan langkah kolaboratif untuk menyediakan akses dan kesempatan yang lebih setara di tingkat komunitas.The Golo Mori menempatkan aspek inklusi sosial sebagai salah satu fondasi utama dalam pengembangan pariwisata yang berkelanjutan. Pertemuan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat kapasitas masyarakat lokal sekaligus mendorong terbentuknya lingkungan sosial yang aman, adaptif, dan dapat diakses oleh seluruh kelompok masyarakat.“Kami menyambut baik inisiatif para mitra yang terus mendorong peningkatan kapasitas masyarakat. Harapannya, hasil pertemuan hari ini dapat memperkuat kolaborasi lintas pemangku kepentingan untuk menciptakan lingkungan sosial yang adaptif, aman, dan memberikan ruang bagi semua,” tambah Aji.Melalui penyelenggaraan dialog kolaboratif ini, The Golo Mori menegaskan komitmen untuk terus menjadi ruang pembelajaran, pemberdayaan, dan penguatan komunitas. ITDC meyakini bahwa keberhasilan sebuah destinasi tidak hanya ditentukan oleh infrastruktur dan nilai ekonomi yang dihasilkan semata, tetapi juga pada kualitas hubungan sosial serta kesetaraan kesempatan bagi seluruh warga dalam menikmati manfaat pembangunan kawasan.